2 Agu 2011

VISIT NATUNA 2011

Pemandangan di Pantai Ranai, Natuna

Sudah pernah ke Natuna? Kalau belum tak apa-apa, saya yakin banyak juga yang belum pernah kesana. Saya sendiri kebetulan karena ada pekerjaan yang mengharuskan pergi ke Natuna, Kalau tidak mana pernah saya ke Natuna(?).



Natuna sebuah pulau di bagian utara Indonesia, terletak di perairan Laut Cina Selatan. Berbatasan dengan negara Malaysia, Vietnam dan Kamboja. Natuna terlingkupi dalam wilayah admninistrasi Kabupaten Natuna yang terdiri dari 124 pulau (hanya 30 pulau yang berpenghuni). Kabupaten Natuna terdiri dari beberapa pulau besar antara lain Bunguran, Jemaja, Serasan Subi dan Anambas Ibukotanya terletak di Pulau Bunguran. Untuk bisa menjangkau Natuna, ada dua pilihan transportasi naik pesawat atau kapal laut. Tentu, karena letaknya di tengah laut begitu tak banyak pilihan jika harus pergi kesana. 

Getting There..
Approaching Natuna
Saya sendiri pergi kesana menggunakan pesawat terbang dari Jakarta. Ada dua rute yang bisa ditempuh, yakni Jakarta-Batam-Natuna atau melalui Jakarta-Pontianak-Natuna. Jika melalui Batam anda bisa menggunakan maskapai Lion Air/Wings Air, jika melalui Pontianak menggunakan Maskapai Trigana Air. Kedua rute tersebut tidak setiap hari dioperasikan, penumpangnya lumayan ramai loh broo... Denger-denger juga ketika saya singgah di Batam, ada juga yang mengoperasikan pesawat carteran dari Batam.  Kedua maskapai sama-sama menggunakan pesawat ATR-700 dengan kapasitas 72 seat (musti hunting bro kalau mau dapat, rebutan soalnya hehehe... ). Harga yang ditawarkan pastinya tidak se-"ramah" rute-rute lain, waktu itu saya dapat dengan harga Rp.800.000,- sekali jalan.
Salah satu kapal laut di Pelabuhan Natuna
Pilihan kedua, menggunakan kapal laut. Saya tidak begitu mengetahui pilihan ini, namun dari hasil googling sana sini pergi ke Natuna bisa melalui Kalimantan barat atau melalui Tanjungpinang Kepri.  Kapal perintis yang melayani rute menuju Natuna antara lain Kapal Bukit Raya yang berangkat dari Pemangkat Kalimantan barat, dan Kapal Sabuk Nusantara yang berangkat dari Tanjung pinang Kepri. Jadwal dan harga tiket bisa anda lihat di sini

Bandara Natuna terletak di Pulau Bunguran, pulau terbesar di Kabupaten Natuna. Begitu sampai di Bandara Ranai (NTX) anda tidak akan menjumpai angkutan layaknya di bandara Sukarno Hatta atau bandara besar lainnya. Tapi jangan kuatir, karena banyak juga mobil pribadi yang dijadikan angkutan bagi penumpang. Untuk tarif menuju hotel sekitar Rp 50.000,-. Jika anda berniat menginap beberapa hari cobalah untuk menawar sewa harian, tarifnya sekitar Rp.350.000/hari sudah termasuk BBM dan sopir. 

Sight Seeing..

 Selama beberapa hari di Natuna saya menginap di hotel (tepatnya penginapan) yang cukup bersih dan ber-AC dengan tarif 150 ribu/malam, namun sayangnya sering mati lampu dan hotel tempat saya menginap tidak mempunyai Genset. Hotelnya tepat menghadap pantai, dan didepannya ada tanah lapang (pada saat itu) banyak warung kopi "remang-remang". Sebenarnya bukan remang-remang, gelap gulita malahan hehehe...  Sebutan remang-remang memang tidak jauh dari konotasi negatif keberadaan warung tersebut. Yang terkenal disana dengan sebutan "Kopi Pangku", hehehehe..... Okelah, saya tidak akan membahas lebih jauh tentang istilah pangku, nanti malah kepingin ke Natuna.

Berkeliling kota Ranai tidak sampai menghabiskan waktu banyak. Kota kecil dan tidak terlalu ramai, malah menurut Pemandu (sopir) kami pusat kegiatan ekonomi Natuna berada di Sedanau.  Sedanau adalah nama sebuah pulau kecil sebelah barat Pulau Bunguran yang menjadi pusat kegiatan perdagangan hasil laut Natuna. 

The Alif Stone Park
 

Di pulau Bunguran sendiri terdapat beberapa obyek yang dapat kita kunjungi, mostly adalah wisata pantai dan kuliner sea food. Salah satu yang menjadi tempat wisata andalan Natuna adalah Pantai Batu Alif. Batu di area pantai ini luar biasa, besar-besar dan tersusun begitu rupa. Kondisi pantainya masih alami, jauh dari riuh rendah kegiatan beach tourisme layaknya Bali. 

"om Hendra"
Saat berjalan-jalan menikmati Alif Stone, saya berkenalan dengan seorang pria pemilik salah satu rumah di Alif Stone, Beliau memperkenalkan diri sebagai "Om Hendra", dan saya memperkenalkan diri sebagai "Bond, James Bond..." hahahaha (kidding bro). Kami berbicara panjang lebar tentang awal mula beliau bermukim di area Alif Stone, saat itu hanya sebuah pantai yang kotor. Lalu pelan-pelan Om Hendra mulai membersihkan sampah yang berserakan, membangun pelantar (jalan setapak dari kayu), beliau juga membangun Toilet untuk wisatawan (bersih dan airnya berlimpah loh bro..). Hingga saat ini kebersihannya masih terjaga dengan baik dan rapih (you're doing great Om, I'm proud of you). Tak hanya berbincang, beliau juga menawarkan diri untuk singgah di rumahnya. Rumah beliau terlihat sederhana, rumah panggung cukup luas dan bersih. "boleh kalau mau menginap disini" kata beliau. Beliau cukup terbuka dan ramah menyambut siapapun tamu yang berkunjung, dan kadang memang mempersilahkan menginap untuk tamu-tamu tertentu. Dan tau nggak apa yang saya jumpai waktu dirumahnya? Rangka Ikan Paus brooo... hehehe, ga penting ya?  Selain menikmati pemandangan alam yang indah, anda juga bisa melakukan snorkling.

Masjid Raya Natuna

Natuna adalah kota kecil yang sederhana, namun jangan salah, meskipun kecil Natuna mempunyai masjid sangat megah (damn, lagi-lagi saya lupa nama masjidnya apa). Bangunan masjid mengadopsi gaya arsitektur timur tengah, mediterania, spanyol yang dekoratif (habis bingung gaya apaan ya? hehehe). Yang jelas masjid ini besar, megah, luas dan mewah karena karpetnya juga kualitas wahid, empuk dan lembut banget brooo. 



Go To Sedanau

pelabuhan di Bunguran
Karena penasaran dengan Sedanau, akhirnya saya memutuskan memaksakan untuk pergi kesana. Karena memang saya harus melakukan survey singkat untuk urusan pekerjaan, mau tak mau saya harus ke Sedanau juga toh? Perjalanan menuju sedanau dari Ranai kami harus menempuh perjalanan darat sekitar 30-40 menit menuju pelabuhan Bunguran. Biasanya ada kapal ferry yang melayani rute Bunguran-Sedanau namun karena mengejar waktu saya memutuskan untuk menyewa perahu nelayan. Agak lama juga saya menunggu yang punya kapal, masih tidur kayaknya... Untung pemandu (merangkap sopir) berbaik hati mencarikan pemilik kapal yang bersedia disewa. Akhirnya dapat juga, lumayan kena  Rp.400.000 PP, yah lumayan mahal sih, mau gimana lagi? kepepet ini. 

kapal nelayan
berani ga nyetir mobil kayak gini?
Ok, ga pakai lama kami langsung berangkat, pelan-pelan kapal keluar dari area pelabuhan menuju pulau Sedanau. Suara mesinnya bro, kenceng abisss.. free flow, kalah deh anak trek di fatmawati hehehe.  Sayangnya meskipun suara mesinnya gahar, jalannya kapal pelan banget bro... Kayaknya gak pake gear box, gigi satu terus hahaha.. Nih kapal bener-bener sederhana,  tapi untungnya Sang kapten cukup berpengalaman (kalau ga mending ga berangkat deh bro, bisa nyasar). Tidak ada perakatan navigasi yang bisa saya jumpai, kemudi kapal juga memakai setir mobil yang dihubungkan dengan tali ke haluan kapal. 

Selamat datang di Sedanau
Setelah satu jam lebih kami berlayar, akhirnya kelihatan juga pulau Sedanau. Sudah menjelang sore ketika kami tiba disana. Pelabuhan Sedanau sudah lumayan bagus, dermaga-nya terbuat dari beton. Pelabuhan ini sepertinya memang merupakan pusat kegiatan masyarakat, karena juga satu kompleks dengan pasar tradisional. Namun karena sudah sore kegiatan masyarakat tidak begitu ramai. Kami memutuskan untuk mengelilingi Sedanau menggunakan motor dengan pak Camat. Tidak ada kendaraan roda empat disini bro, jalannya kecil dan pulaunya pun kecil percuma punya mobil disini ga jauh kemana-mana... hehehe. Tapi jangan salah, penduduk disini kaya-kaya loh bro, lha transaksi jual-beli ikan aja pakai US dollar (dan dilakukan di tengah laut). Nampaknya kedekatan gografis memudahkan para nelayan ini untuk menjual langsung hasil laut Indonesia ke negara tetangga (dan barangkali alasan praktis dan ekonomi).

Ok, Nampaknya hari sudah mulai sore. Sesuai perjanjian dengan pemilik kapal, Jam 16.00 kami harus segera kembali ke Bunguran lagi kalau tidak bisa kemaleman di jalan laut bisa gawat! Dan benar saja, lewat pertengahan perjalanan langit sudah gelap gulita. "kalau ga hapal jalurnya, kapal bisa kandas" kata pemandu saya. Yaiks, kandas? dilaut? malam-malam gini? yang bener aja pak... Alhamdulillah, berkat perlindungan Allah dan kemahiran pemilik kapal akhirnya kami sampai dengan selamat di pelabuhan Bunguran.
Dan tentunya sampai juga kita di ujung cerita Visit Natuna, banyak yang ingin diceritakan namun saya takut anda bosan mendengar cerita saya. 


Ok, Have a Great day Everybody... 



4 komentar:

dodi mengatakan...

ane tinggal di ranai natuna bro,, oh ya nama masjid nya bukan masjid raya tapi Masjid Agung Natuna bro,,,,,,, kapan kapan ke natuna lagi ya

muftipamungkas mengatakan...

terima kasih koreksinya agan cybercom. Mudah-mudahan bisa ke natuna lagi (entah kapan, soalnya ongkosnya lumayan :D)

Sholeh mengatakan...

mas pamungkas, tulisan cerita perjalanan ke natuna keren,,,uenak di bacanya. kalau ke natuna lagi kasih tau ya. ntar tak tunjukin lokasi-lokasi yang lebih memukau.

dhuat79 mengatakan...

Doh guaner di nung? Cakap cem ke Ganue ker wey?

Posting Komentar